Kenapa Menguji Diri Sendiri Lebih Ampuh daripada Membaca Ulang

· 8 menit baca

Seorang pelajar di meja menguji dirinya dengan kartu hafalan tulisan tangan, menutupi catatannya sambil mencoba mengingat

Ilmu belajar

Menstabilo dan membaca ulang terasa seperti belajar. Lima puluh tahun riset memori menyebut keduanya termasuk hal paling lemah yang bisa kamu lakukan — dan bahwa kuis sederhana adalah salah satu yang paling ampuh.

Tanyakan ke kebanyakan orang bagaimana mereka belajar untuk ujian, dan jawabannya akan sama: mereka membaca materinya, lalu membacanya lagi, mungkin sambil memegang stabilo. Rasanya seperti kerja keras, dan rasanya seperti berhasil — teksnya terasa makin akrab di setiap bacaan. Justru perasaan itulah masalahnya. Akrab tidak sama dengan ingat, dan strategi yang membuat belajar terasa lancar biasanya justru yang paling sedikit meninggalkan bekas.

Alternatifnya punya nama yang tidak glamor — retrieval practice(latihan mengingat kembali), atau “testing effect” — dan bukti yang sangat banyak di belakangnya. Idenya sederhana: alih-alih memasukkan informasi lagi dengan membaca ulang, kamu menariknya keluar dengan menguji dirimu sendiri. Tindakan mengingat kembali sebuah fakta itulah yang memperkuat ingatan tentangnya. Membaca itu pasif; mengingat itu latihan beratnya.

Eksperimen yang membalikkan anggapan

Demonstrasi penting itu datang dari ilmuwan kognitif Henry Roediger dan Jeffrey Karpicke, dalam makalah tahun 2006 di Psychological Science. Para pelajar membaca beberapa bacaan prosa pendek, lalu mempelajarinya lagi atau mengerjakan tes mengingat sederhana tanpa umpan balik — tanpa koreksi, tanpa kunci jawaban, hanya usaha untuk mengingat. Setelah itu mereka diuji dengan jeda yang berbeda: lima menit, dua hari, atau seminggu kemudian.

Hasil jangka pendeknya yang mengecoh semua orang. Setelah lima menit, pelajar yang membaca ulang bacaan itu sedikit lebih unggul. Kalau studinya berhenti di situ, membaca ulang akan terlihat sebagai pemenang. Tapi ingatan yang penting diukur dalam hitungan hari, bukan menit — dan seminggu kemudian polanya berbalik tajam. Mahasiswa yang menguji diri sendiri mengingat jauh lebih banyak, mengungguli kelompok yang membaca ulang sekitar dua puluh poin persentase.

Yang terasa lebih efektif saat itu ternyata strategi yang lebih buruk untuk apa pun yang benar-benar perlu kamu ingat.

Bukan cuma soal menghafal fakta

Keberatan yang wajar: tes mengingat hanya membantu untuk fakta hafalan — bagus untuk tanggal dan definisi, tidak berguna untuk pemahaman sungguhan. Sebuah studi tahun 2011 di Science, lagi-lagi dari Karpicke bersama Janell Blunt, menguji hal itu. Mereka mengadu retrieval practice dengan “belajar elaboratif” memakai peta konsep — teknik yang seharusnya membangun pemahaman yang dalam dan saling terhubung.

Retrieval practice menang, dan bukan hanya pada soal mengingat biasa. Metode ini juga menghasilkan kinerja yang lebih baik pada pertanyaan yang menuntut pelajar menarik kesimpulan dan menghubungkan ide-ide yang tidak pernah ditanyakan langsung kepada mereka. Berlatih mengeluarkan informasi dari kepala berdampak lebih besar pada pemahaman sejati daripada metode yang memang dirancang untuk membangunnya.

Metode paling populer justru paling tidak efektif

Pada tahun 2013, tim lima peneliti yang dipimpin John Dunlosky meninjau bukti tentang sepuluh teknik belajar umum untuk Psychological Science in the Public Interest, dan menilai masing-masing berdasarkan seberapa efektif sebenarnya. Hasilnya diam-diam menampar cara kebanyakan dari kita diajari belajar.

Dua teknik mendapat nilai tertinggi “high utility”: latihan soal dan latihan terdistribusi (menyebar waktu belajar alih-alih sistem kebut semalam). Lalu metode yang dinilai low utility? Menstabilo, menggarisbawahi, membaca ulang, dan meringkas — persis yang pertama kali diraih kebanyakan pelajar. Strategi belajar paling umum di dunia ternyata juga salah satu yang paling tidak efektif.

Kenapa kesulitan justru membantu?

Bagian yang berlawanan dengan intuisi adalah bahwa usahanya itulah intinya. Psikolog Robert Bjork menyebutnya “desirable difficulties” (kesulitan yang diinginkan): kondisi yang membuat belajar terasa lebih berat dan lambat saat itu, tapi menghasilkan ingatan yang lebih kuat dan tahan lama. Bersusah payah mengingat sebuah jawaban — bahkan gagal, lalu melihat jawabannya — berdampak lebih besar daripada membaca jawaban yang sama dengan lancar dari halaman. Kemudahan terasa seperti kemajuan; kesulitanlah tempat belajar terjadi.

Ini juga alasan membaca ulang begitu menggoda. Setiap bacaan terasa lebih mudah dari sebelumnya, dan kita mengira kelancaran itu sebagai penguasaan. Retrieval practice menghapus ilusi itu: begitu kamu mencoba mengingat sesuatu dan tidak bisa, kamu mendapat umpan balik yang jujur dan langsung tentang apa yang sebenarnya kamu tahu.

Cara memakainya dalam praktik

Riset ini menunjuk pada beberapa kebiasaan konkret yang mengalahkan stabilo:

Tutup buku dan ajukan pertanyaan. Setelah membaca satu bagian, alihkan pandangan dan tuliskan semua yang bisa kamu ingat, atau jawab beberapa pertanyaan tentangnya. Yang penting adalah mengingat kembali, bukan membaca ulang.

Pakai kartu hafalan untuk mengingat, bukan mengenali. Paksa dirimu menyebutkan jawabannya sebelum membalik kartu. Sekadar mengenali jawaban yang benar di sebuah daftar jauh lebih lemah daripada menghasilkannya dari nol.

Beri jarak.Sepuluh menit menguji diri di tiga hari yang berbeda mengalahkan tiga puluh menit dalam sekali duduk. Ada alasannya latihan terdistribusi menjadi pemenang “high utility” yang lain.

Biarkan dirimu salah. Usaha mengingat yang gagal, diikuti jawaban yang benar, adalah salah satu momen belajar paling ampuh yang ada. Jawaban salah tidak sia-sia — justru itulah mekanismenya.

Kuis ternyata sudah lebih dulu benar

Ada ironi yang menarik di sini. Kuis — yang lama dianggap hal membosankan di akhir, penilaian, tes yang kamu pelajari untuk menghadapinya — ternyata salah satu alat terbaik untuk proses belajar itu sendiri. Setiap pertanyaan adalah tindakan kecil mengingat kembali, persis hal yang menurut riset membangun ingatan yang tahan lama.

Itulah seluruh ide di balik Yippito: mengubah topik, catatan, atau materi pelajaran menjadi kuis singkat tanpa tekanan yang dimainkan bersama oleh satu kelas atau sekelompok teman. Retrieval practice jadi sosial dan cepat — dan karena dimainkan sebagai game, rasanya sama sekali tidak seperti ujian. Dan ternyata, di situlah intinya.

Sumber

Terapkan ilmunya.

Ubah topik apa pun menjadi kuis singkat yang dimainkan kelompokmu bersama-sama.

Coba gratis